Kesaksian: Sembuh dari Sakit (1)

K

Kali ini ngeblog edisi kesaksian ya. Udah lama mau nulis, tetapi ada beberapa hal yang menahan. Akhirnya saya memutuskan untuk menulisnya, selain untuk mengingkatkan saya kembali betapa Tuhan Yesus baik juga semoga dapat memberkati bagi yang membacanya. Kadang-kadang ketika masalah besar melanda kita, pikiran kita gelap tidak bisa berpikir dan mulai menyalahkan Tuhan, atau merasa Tuhan tidak bekerja. Dengan ini, saya pribadi diingatkan kembali.

1. Pada tahun 2000, anak saya yang pertama lahir. Kami beri nama Charlize. Anak perempuan yang sangat cantik dan lucu.

Pada saat itu, adalah pengalaman pertama kami memiliki anak. Senang sekali, sangat senang. Hati terus berbunga-bunga sampai setelah beberapa hari di Rumah Sakit Bersalin kami pulang dari RS Bersalin bersama-sama dengan anak kami. Standardnya sebelum pulang, akan diambil darah untuk mengecheck tingkat bilirubin anak tersebut. Batasnya 10. Waktu dibawa pulang, angkanya dekat 10.

Bilirubin itu adalah salah satu ukuran bahwa seorang bayi dapat memproduksi darah merah. Atau orang biasa bayi kuning. Jika fungsi hati bayi sudah normal, maka tidak akan kuning. Biasanya butuh beberapa hari sebelum fungsi hati tersebut benar-benar baik. Karena itu juga bayi perlu dijemur pagi-pagi sekali pada saat ada matahari.

Di rumah, anaknya lucu sekali. Kami masih mencoba tidak menggunakan suster. Sehingga dengan pengetahuan kami, ada kemungkinan bayinya jadi kurang istirahat dan minum. Hampir sepanjang malam kerjaan kami adalah menyusui, mengganti popok, memberdirikan+menepuk2 punggung agar tidak olak (susu keluar dari mulut lagi), ngompol. Siklus ini terus menerus terjadi.

Beberapa hari kemudian, ada salah seorang tamu yang datang menengok. Lalu bilang “eh, ini anaknya kuning loh coba diperiksa ke dokter”. Singkat kata kami ke dokter, dan benar… dokter bilang anaknya kuning harus diambil darah untuk dicheck. Kami segera check ke laboratorium, dan kaget sekali karena hasil laboratorium tersebut angkanya 24. Shock abis. Cepat-cepat ke rumah sakit bersalin tempat melahirkan anak kami, ternyata ditolak. Alasannya karena hasil lab-nya sudah tinggi. Pindah rumah sakit yang bisa menerima anak kami.

Akhir cerita dari takut, stress, sedih, doa terus,.. Saya lalu memohon ampun, dan melakukan pembersihan. Pada saat saya mengantarkan susu ASI dari rumah ke RS. Saya berdoa sepanjang jalan, tiba-tiba ada yang bicara “Anak kamu sembuh”. Karena setiap hari diambil darah untuk mengetahui tingkat bilirubin saya bertanya-tanya dalam hati, berapa angkanya. Suara itu bilang lagi “Berapa angka yang kamu percaya”. Saya menyebut suatu angka 7.8. Lalu terdengar “Seperti yang kamu percaya itu yang terjadi”. Saya menangis di jalan. Dan sesampainya di RS, benar angkanya sudah keluar. cocok. Puji Tuhan.

Pulang dari rumah sakit, kami tetap harus terus berdoa. Karena perjuangan masih terus. Salah satunya ketika kami menanyakan kepada dokter, dokter bilang bahwa jika sudah tembus suatu angka maka bisa jadi merusak otak. Dan tahu jadi terpengaruh atau tidak baru kelihatan setelah umur beberapa tahun. Lalu juga proses menjemur dan memberi obatnya juga bikin stress. Cuaca mendung terus, kalau minum obat kuning ngantuk sampai tidak bisa minum susu karena ketiduran, padahal agar kadar bilirubin turun harus banyak minum susu. Untuk dokter, saya sangat berterima kasih kepada dokter wanita yang praktek di jl. Pasteur saat itu. Dokter tersebut sudah terkenal, tetapi mau melayani dan menjelaskan saya di telpon lama tanpa saya membayar apa-apa. Walaupun yang dijelaskannya adalah pengetahuan yang agak menakutkan.

Puji Tuhan anak saya sehat, cantik, dan pintar.

 

About the author

Mico Wendy

Saya suka membaca buku, mencoba hal baru, berpetualang.

1 Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

By Mico Wendy

Mico Wendy

Saya suka membaca buku, mencoba hal baru, berpetualang.

Get in touch